Sebagian besar dari kita boleh jadi tidak tahu siapa H. Akbar Bambang Sarwono. Wajar saja, karena memang nama lengkapnya tidak sepopuler nama bisnisnya. Tapi kalau Anda pemilik mobil di Jakarta, apalagi mobil kategori menengah atas, pasti kenal dengan nama Has Salon Mobil, pelopor salon mobil di Indonesia.Mantan makelar yang sudah menggeluti bisnis percaloan sejak umur 16 tahun itu memulai bisnis salonnya tahun 1986 dari garasi mobil di rumahnya di bilangan Pluit, Jakarta Utara. Boleh jadi Has memetik ide membuka salon mobil ketika melihat banyaknya kendaraan mentereng berseliweran di Jakarta dan membutuhkan sentuhan agar tetap tampil kinclong. Sadar usahanya sebagai sesuatu yang baru, sebuah iklan dipasangnya di Koran Pos Kota. Hasilnya? Sehari setelah iklan terbit pelanggan mulai berdatangan.
Dengan bekerja sendirian di tahap awal bisnisnya itu, Has memperkenalkan jasa membersihkan kaca mobil. Secara bertahap, lalu ada layanan komplit untuk mendandani interior dan eksterior mobil agar cat yang kusam menjadi betul-betul mengkilap, bagian dalam mobil bersih dan wanginya seperti layaknya mobil baru keluar dari showroom.
Setelah salonnya mulai ramai pelanggan, Has memindahkan usahanya ke Radio Dalam yang menjadi jalan akses satu-satunya pada saat itu ke kawasan elit Pondok Indah. Di sini Has Salon Mobil semakin dikenal banyak kalangan atas pengendara mobil-mobil mewah yang menjadi target pasar yang sedari awal menjadi sasaran Has karena mereka tak memiliki waktu dan kemampuan merawat mobil tapi tuntutannya tinggi.
Sukses salon Has kemudian juga menjadi daya tarik pesaing untuk membuka usaha sejenis di lokasi yang sama, termasuk mantan karyawannya yang kemudian berusaha sendiri. Tapi Has tidak ambil peduli meski di Jl. Radio Dalam ada lebih dari 15 usaha sejenis. Has punya alasan, ia mengetahui persis keunggulan pesaingnya.
Selain itu Has merasa lebih mengetahui seluk beluk mobil dan memiliki kemampuan untuk meracik bahan-bahan pembersih mobil yang seluruhnya impor. Karena itu untuk mengasah pengetahuan dan ketrampilannya, Has rajin menyantap buku dan majalah otomotif, serta manyambangi pameran-pameran otomotif dan melakukan studi banding ke salon-salon mobil di luar negeri. Segala perkembangan otomotif paling mutakhir di dalam dan luar negeri bisa diketahuinya lebih dulu ketimbang pesaingnya. Bahkan sebelum kebijakan impor mobil dibuka, Has sudah menyambangi Cadillac House untuk mempelajari teknik salon mobil di negeri Paman Sam.
Tarif salon mobil Has memang lebih mahal dibandingkan salon-salon mobil lain. Untuk paket pembersihan kaca, bodi dan interior paling murah Rp 500 ribu, selain ada juga jasa bersih-bersih yang diberikan secara ketengan. Untuk meningkatkan layanan dan megikat pelanggan, Has menjual kartu diskon yang berlaku setahun dan bisa digunakan untuk mobil yang berbeda. Pemegang kartu diskon sebesar 30 % ini sudah lebih dari 8.000 anggota.
Alhasil, dengan asumsi setiap anggota membersihkan mobilnya dua kali setahun, Has bisa mencapai omzet setidaknya Rp 8 miliar per tahun. Belum lagi pemasukannya dari menjual kaca film dan aneka parfum yang semerbak wanginya menebarkan aroma mobil baru. Kini Has Salon Mobil sudah berdiri di empat cabang, yakni dua di Radio Dalam, Cilandak dan Kelapa Gading.
Meski tidak tamat sekolah dasar, pemilik Has termasuk otodidak yang bisa dengan cepat menguasai ilmu dan ketrampilan secara mandiri. Bayangkan saja, kelahiran Malang Jawa Timur tahun 1941 itu menguasai bahasa Arab, Belanda, Inggris, serta Cina dalam tiga dialek. Konon, keahlian multi bahasa itu berkat pergaulannya dengan kalangan the high yang menjadi langgannya. Karena itu pula, Has juga sering menerima panggilan memoles kapal pesiar dan pesawat terbang milik para konglomerat.
http://pojokniaga.wordpress.com/2009/08/30/h-akbar-bambang-sarwono-has-salon-mobil/
Tampilkan postingan dengan label 2.Profil Wirausaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2.Profil Wirausaha. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Oktober 2010
Timothy Siddik
Timothy Siddik Sang Kreator Zyrex
Yayat Suratmo
Published 05/05/2008 - 3:19 a.m. GMT
Rate This Article:
1
ABOUT THE AUTHOR
Yayat Suratmo
Email:
Email
Bagi pria jebolanUniversity Of California Davies ini, menjadi ahli di bidang komputer merupakan cita-citanya. Tapi sekarang ia bukan cuma ahli komputer tapi juga menjadi kreator ZYREX.
Begitu lulus sekolah menengah atas, penggemar mata pelajaran matematika dan ilmu pasti ini kemudian meneruskan kuliah ke University Of California Davies, AS.
Selesai menggondol gelar Mathematic and Computer Science,ia mendapat pekerjaan sebagai penyelia software. Dua tahun pertama ia jalani pekerjaannya dengan tekun hingga jabatan Senior Software Managerpun ia rengkuhnya. Tak puas sampai disitu, ia ingin mencoba ganasnya persaingan di daerah industri Silicon Valley. Di sana ia berpindah-pindah kerja, mulai dari softwarehouse.corp sampai di GTEspacenet. Selama 10 tahun bermukim di Amerika, hampir tujuh lamanya ia habiskan untuk bekerja.
Tahun 1990 Timothy kembali ke tanah air dan membangun perusahaan produsen komputer bermerek Zyrex.
Setelah membuat janji berkali-kali, akhirnya Kabari berhasil mewawancarai ayah dari tiga anak ini. Berikut petikan wawancaranya
Kabari :Bagaimana ceritanya “Zyrex” lahir?
Timothy Siddik :
Begitu kembali ke tanah air, saya melihat dunia Informasi Teknologi (IT) di Indonesia masih sangat sederhana, seperti masih banyak dipakainya PC (PersonalComputer) dengan prosesor Pentium dua atau tiga, dengan harga yang mahal pula. Padahal di Malaysia dan Singapura sudah pakai Pentium 75 sampai seratus, akhirnya saya lihat ini sebagai opportunity untuk membuat merek PC lokal. Apalagi Indonesia menjadi dumping ground merek-merek besar. Maka tercetuslah ide kenapa tidak membuat merek sendiri.
Kabari :
Pertama kali dijual kemana?
Timothy Siddik :
Sebelum Zyrex lahir, kebetulan kami punya bisnis IT solution, seperti networksolution, interconnectivity solution, software dan berbagai jasa IT lainnya. Para customer kita itulah yang pertama kali kita perkenalkan merek Zyrex.
Kabari :Pendapat mereka?
Timothy Sidik :
Mereka bilang bagus, kenapa tidak bikin yang banyak sekalian. Akhirnya secara resmi mulailah Zyrex lahir
Kabari :
Katanya dipatenkan di San Jose AS, kenapa harus di sana?
Timothy Siddik :
Bukanapa-apa, waktu itu kita mikir, kenapa tidak dipatenkan di Negara dengan sistem proteksi merek yang baik sekalian? Karena saya enggak mau ada orang yang membajak merek kita, baik orang luar negeri atau orang dalam negeri.
Kabari :Apa yang membuat Bapak optimis menjalankan bisnis ini?
Timothy Siddik :
Saya melihat dunia IT Indonesia masih tahap infant atau penetrasi PC-nya masih rendah sekali hanya berkisar empat persen dari jumlah penduduk. Idealnya dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini, penetrasi PC di Indonesia minimal duapuluh persen. Kami melihat terbukanya pasar dari empat persen ke duapuluh persen itu. Tapi tentu kami harus berjuang terus. Sebetulnya jika PC penetrasi meningkat, banyak manfaat yang didapat oleh masyarakat dan pemerintah. Minimal memperkenalkan transparansi.
Kabari :
Dengan kondisi seperti ini berapa tahun lagi 20 persen penetrasi PC akan tercapai?
Timothy Siddik :
Inginnya saya sih tahun kemarin dan tahun kemarinnya lagi, tapi kan tidak mungkin. Tapi mudah-mudahan bisa tercapai dalam 5 sampai 10 tahun kedepan.
Saat ini Zyrex adalah merek komputer lokal terbesar di Indonesia. Baru-baru ini Zyrex mengeluarkan varian notebook baru bernama Ubud dan Anoa. Anoa diperuntukan bagi para pemula dan siswa sekolah, sementara Ubud diperuntukan bagi kalangan professional muda yang mobile dan dinamis. Untuk Anoa harganya tiga juta rupiah dan Ubud lima setengah juta rupiah.
Kabari :
Harapan Bapak di saat masih banyaknya orang yang lebih percaya produk luar negeri?
Timothy Siddik :
Saya prefer supaya pemerintah menggunakan produk-produk dalam negeri sendiri. Slogan “Aku cinta produk Indonesia” harus kembali dinyanyikan,digaungkan, dikumandangkan. Bukan cuma untuk Zyrex saja tetapi semua produk yang bisa kita buat, entah itu meja, kursi, oli, garmen,pokoknya semua produk Indonesia.
Kabari :
Terakhir Pak,pendapat Anda mengenai masih banyaknya orang Indonesia yang lebih bangga membeli merek luar daripada merek nasional?
Timothy Siddik :Sebetulnya masyarakat tidak sepenuhnya salah, mereka berhak membeli produk manapun, mereka yang punya uang kok. Tapi ya itu tadi, pemerintah seharusnya mendorong industri-industri lokal supaya maju, berikan mereka kesempatan yang sama, berikan insetif, dan berikankanlah dukungan yang maksimal. Niscaya saat industri lokal maju, produk-produk mereka pasti berkualitas bagus, jika sudah begitu masyarakat akan berbondong-bondong beli produk nasional
(Yayat)
http://www.kabarinews.com/article/Berita_Amerika/Amerika_Profiles/Timothy_Siddik_Sang_Kreator_Zyrex/31272
Yayat Suratmo
Published 05/05/2008 - 3:19 a.m. GMT
Rate This Article:
1
ABOUT THE AUTHOR
Yayat Suratmo
Email:
Bagi pria jebolanUniversity Of California Davies ini, menjadi ahli di bidang komputer merupakan cita-citanya. Tapi sekarang ia bukan cuma ahli komputer tapi juga menjadi kreator ZYREX.
Begitu lulus sekolah menengah atas, penggemar mata pelajaran matematika dan ilmu pasti ini kemudian meneruskan kuliah ke University Of California Davies, AS.
Selesai menggondol gelar Mathematic and Computer Science,ia mendapat pekerjaan sebagai penyelia software. Dua tahun pertama ia jalani pekerjaannya dengan tekun hingga jabatan Senior Software Managerpun ia rengkuhnya. Tak puas sampai disitu, ia ingin mencoba ganasnya persaingan di daerah industri Silicon Valley. Di sana ia berpindah-pindah kerja, mulai dari softwarehouse.corp sampai di GTEspacenet. Selama 10 tahun bermukim di Amerika, hampir tujuh lamanya ia habiskan untuk bekerja.
Tahun 1990 Timothy kembali ke tanah air dan membangun perusahaan produsen komputer bermerek Zyrex.
Setelah membuat janji berkali-kali, akhirnya Kabari berhasil mewawancarai ayah dari tiga anak ini. Berikut petikan wawancaranya
Kabari :Bagaimana ceritanya “Zyrex” lahir?
Timothy Siddik :
Begitu kembali ke tanah air, saya melihat dunia Informasi Teknologi (IT) di Indonesia masih sangat sederhana, seperti masih banyak dipakainya PC (PersonalComputer) dengan prosesor Pentium dua atau tiga, dengan harga yang mahal pula. Padahal di Malaysia dan Singapura sudah pakai Pentium 75 sampai seratus, akhirnya saya lihat ini sebagai opportunity untuk membuat merek PC lokal. Apalagi Indonesia menjadi dumping ground merek-merek besar. Maka tercetuslah ide kenapa tidak membuat merek sendiri.
Kabari :
Pertama kali dijual kemana?
Timothy Siddik :
Sebelum Zyrex lahir, kebetulan kami punya bisnis IT solution, seperti networksolution, interconnectivity solution, software dan berbagai jasa IT lainnya. Para customer kita itulah yang pertama kali kita perkenalkan merek Zyrex.
Kabari :Pendapat mereka?
Timothy Sidik :
Mereka bilang bagus, kenapa tidak bikin yang banyak sekalian. Akhirnya secara resmi mulailah Zyrex lahir
Kabari :
Katanya dipatenkan di San Jose AS, kenapa harus di sana?
Timothy Siddik :
Bukanapa-apa, waktu itu kita mikir, kenapa tidak dipatenkan di Negara dengan sistem proteksi merek yang baik sekalian? Karena saya enggak mau ada orang yang membajak merek kita, baik orang luar negeri atau orang dalam negeri.
Kabari :Apa yang membuat Bapak optimis menjalankan bisnis ini?
Timothy Siddik :
Saya melihat dunia IT Indonesia masih tahap infant atau penetrasi PC-nya masih rendah sekali hanya berkisar empat persen dari jumlah penduduk. Idealnya dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini, penetrasi PC di Indonesia minimal duapuluh persen. Kami melihat terbukanya pasar dari empat persen ke duapuluh persen itu. Tapi tentu kami harus berjuang terus. Sebetulnya jika PC penetrasi meningkat, banyak manfaat yang didapat oleh masyarakat dan pemerintah. Minimal memperkenalkan transparansi.
Kabari :
Dengan kondisi seperti ini berapa tahun lagi 20 persen penetrasi PC akan tercapai?
Timothy Siddik :
Inginnya saya sih tahun kemarin dan tahun kemarinnya lagi, tapi kan tidak mungkin. Tapi mudah-mudahan bisa tercapai dalam 5 sampai 10 tahun kedepan.
Saat ini Zyrex adalah merek komputer lokal terbesar di Indonesia. Baru-baru ini Zyrex mengeluarkan varian notebook baru bernama Ubud dan Anoa. Anoa diperuntukan bagi para pemula dan siswa sekolah, sementara Ubud diperuntukan bagi kalangan professional muda yang mobile dan dinamis. Untuk Anoa harganya tiga juta rupiah dan Ubud lima setengah juta rupiah.
Kabari :
Harapan Bapak di saat masih banyaknya orang yang lebih percaya produk luar negeri?
Timothy Siddik :
Saya prefer supaya pemerintah menggunakan produk-produk dalam negeri sendiri. Slogan “Aku cinta produk Indonesia” harus kembali dinyanyikan,digaungkan, dikumandangkan. Bukan cuma untuk Zyrex saja tetapi semua produk yang bisa kita buat, entah itu meja, kursi, oli, garmen,pokoknya semua produk Indonesia.
Kabari :
Terakhir Pak,pendapat Anda mengenai masih banyaknya orang Indonesia yang lebih bangga membeli merek luar daripada merek nasional?
Timothy Siddik :Sebetulnya masyarakat tidak sepenuhnya salah, mereka berhak membeli produk manapun, mereka yang punya uang kok. Tapi ya itu tadi, pemerintah seharusnya mendorong industri-industri lokal supaya maju, berikan mereka kesempatan yang sama, berikan insetif, dan berikankanlah dukungan yang maksimal. Niscaya saat industri lokal maju, produk-produk mereka pasti berkualitas bagus, jika sudah begitu masyarakat akan berbondong-bondong beli produk nasional
(Yayat)
http://www.kabarinews.com/article/Berita_Amerika/Amerika_Profiles/Timothy_Siddik_Sang_Kreator_Zyrex/31272
Indra Bigwanto
Siapa yang pernah mendengar nama Bandung FM ? Bagi pendengar setia radio, nama stasiun yang satu ini masih cukup asing. Setidaknya dalam kurun waktu enam bulan ke belakang. Wajar saja, pendengarnya juga hanya diperkirakan 3.000 orang. Bahkan, peringkatnya juga hampir paling bontot, yaitu di posisi 46.
Oleh Administrator, 14 Juli 2009
Nama Usaha : Bandung FM
Mulai Usaha : 1988
Usaha Lain : Guard Indonesia, Editor Best 1 Djarum
: Sekolah Manajemen Radio
Lokasi Usaha : Bandung
Organisasi : PRSSNI (Ketua II Jawa Barat)
: PRSSNI (Kaetua I Pusat)
: Ketua Tim Task Force Suara Aceh (With UNESCO)
: Instruktur Unesco
Siapa yang pernah mendengar nama Bandung FM ? Bagi pendengar setia radio, nama stasiun yang satu ini masih cukup asing. Setidaknya dalam kurun waktu enam bulan ke belakang. Wajar saja, pendengarnya juga hanya diperkirakan 3.000 orang. Bahkan, peringkatnya juga hampir paling bontot, yaitu di posisi 46.
Namun, siapa sangka hanya dalam waktu enam bulan, Bandung FM langsung meroket. Memang masih belum setenar radio swasta yang sudah berdiri puluhan tahun. Tapi yang ajaib, justru beberapa radio berpamor tinggi peringkatnya sudah disalip radio yang bisa disebut masih “anak bawang”. Pendengarnya bertambah puluhan kali lipat menjadi sekitar 90 ribu. Sementara peringkatnya langsung menyodok ke posisi 11.
Jangan tanya soal modal atau promosi besar-besaran. Pasalnya sang pemikir satu ini tak mengandalkan jurus tersebut untuk memajukan radio yang baru satu semester digarapnya. Nah, kuncinya ternyata ada pada program yang dibuat untuk menarik jumlah pendengar yang banyak.
Sebelum melanjutkan ke cerita berikutnya, mari kita berkenalan dengan orang yang membuat Bandung FM cepat “berlari”. Ia adalah Indra Bigwanto. Lelaki kelahiran September 1962 inilah yang mampu menaikan pamor radio sepi pendengar jadi favorit.
“Banyak komunitas yang bisa digarap, kami merangkul ujung tombaknya dan itu terbukti berhasil,” ujar Indra.
Salahsatu komunitas yang dituju adalah kelompok pendukung Persib Bandung. Komunitas yang tergabung dalam Viking ini ia manfaatkan sebagai pasar. Dua “gegedug” Viking diajak kerjasama sebagai penyiar, Ayi Beutik dan Yana Bool. Dan program inilah yang jadi unggulan di Bandung FM.
“Program republik bobotoh (program siaran Ayi dan Yana) memang sengaja dibuat, selain komunitasnya banyak, ini juga merupakan perwujudan konsep di masa lalu saya yang sempat membuat tabloid Bobotoh,” jelas Indra.
Selain komunitas pecinta Persib, Indra dan timnya juga memanfaatkan komunitas lainnya seperti otomotif, blogger, ataupun film. Nah, program yang dibuatnya ini rupanya dapat merangkul banyak pendengar untuk beralih ke frekuensi 95.2 Bandung FM.
Urusan radio memang sudah menjadi santapan Indra sejak dulu. Pertama kali ia terjun ke dunia kerja, Indra langsung menggeluti dunia radio di Radio Famor di tahun 1988. Tak lama dari itu, ia beralih ke media cetak dan bergabung ke koran Pikiran Rakyat . Lalu PR membuat radio, dan Indra pun kembali dipercaya menggawangi radio PR sebagai Station Manager.
Tahun 1990, Indra kembali pindah. Kali ini radio OZ jadi pelabuhan berikutnya. Di radio ini Indra yang dipercaya sebagai Direktur selama 10 tahun membuat banyak perubahan. Banyak program yang dibuat bersama timnya seperti komputerisasi, pengadaan OB Van, serta mampu meningkatkan pendapatan karyawannya. Bahkan, Indra juga sempat satu era dengan P Poject serta Sogi Indraduadja yang keduanya kini punya nama tenar.
Tahun 2000, Indra keluar dari OZ dan memutuskan membuat usaha sendiri. Ia berangkat ke Jakarta dan mendirikan perusahaan komunikasi bernama Metro Star hingga tahun 2004. Di tahun 2002, ia juga mendirikan perusahaan di Bandung yang bergerak di bidang konsultan radio yaitu PT. Radio Inovator Indonesia (RI-1).
Selain itu, Indra juga sempat beberapakali membuat media cetak seperti Buah Batu Bisnis, Bandung Plus, Pasar Mobil Bandung, Metro Pos, serta Tabloid Bobotoh. Persaingan yang cukup ketat membuatnya harus mencoba untuk kembali menggeluti dunia radio.
“Nah di radio ini, sekarang saya juga akan kembali menerbitkan tabloid,” katanya.
Banyak tantangan yang sudah ia dapatkan saat menjalani usahanya, Namun ia tetap bertahan dan mampu kembali bangkit untuk terjun di usaha baru. Menurutnya, kunci suksesnya harus berada pada mental yang kuat. Persaingan yang semakin ketat membuat tentu membutuhkan daya tahan yang kuat untuk menghadapinya.
Selain itu, Indra juga menyarankan agar terus berfokus pada usaha yang sedang dijalankan. Differensiasi juga jadi faktor yang penting untuk berlomba dengan perusahaan lain. Ia mengatakan, dengan perbedaan akan dapat menciptakan pasar sendiri yang bisa digarap.
Dengan adanya teknologi yang lebih maju seperti sekarang, Indra juga menyarankan agar memanfaatkan jaringan sosial di internet dengan lebih intensif. Menurutnya, hal itu bisa dijadikan sebagai sarana promosi efektif dan murah biaya.
“Saat ini banyak yang bisa dimanfaatkan untuk memajukan usaha, tinggal kitanya saja yang harus bisa mencari differensiasi, dan terus fokus pada usaha yang dikerjakan,” tutur mantan Ketua I PRSSNI (Persatuan radio Siaran Swasta Nasional Indonesia).
http://pengusaha.co.id/cerita/indra_bigwanto_fokus_berbeda_manfaatkan_jaringan_sosial
Oleh Administrator, 14 Juli 2009
Nama Usaha : Bandung FM
Mulai Usaha : 1988
Usaha Lain : Guard Indonesia, Editor Best 1 Djarum
: Sekolah Manajemen Radio
Lokasi Usaha : Bandung
Organisasi : PRSSNI (Ketua II Jawa Barat)
: PRSSNI (Kaetua I Pusat)
: Ketua Tim Task Force Suara Aceh (With UNESCO)
: Instruktur Unesco
Siapa yang pernah mendengar nama Bandung FM ? Bagi pendengar setia radio, nama stasiun yang satu ini masih cukup asing. Setidaknya dalam kurun waktu enam bulan ke belakang. Wajar saja, pendengarnya juga hanya diperkirakan 3.000 orang. Bahkan, peringkatnya juga hampir paling bontot, yaitu di posisi 46.
Namun, siapa sangka hanya dalam waktu enam bulan, Bandung FM langsung meroket. Memang masih belum setenar radio swasta yang sudah berdiri puluhan tahun. Tapi yang ajaib, justru beberapa radio berpamor tinggi peringkatnya sudah disalip radio yang bisa disebut masih “anak bawang”. Pendengarnya bertambah puluhan kali lipat menjadi sekitar 90 ribu. Sementara peringkatnya langsung menyodok ke posisi 11.
Jangan tanya soal modal atau promosi besar-besaran. Pasalnya sang pemikir satu ini tak mengandalkan jurus tersebut untuk memajukan radio yang baru satu semester digarapnya. Nah, kuncinya ternyata ada pada program yang dibuat untuk menarik jumlah pendengar yang banyak.
Sebelum melanjutkan ke cerita berikutnya, mari kita berkenalan dengan orang yang membuat Bandung FM cepat “berlari”. Ia adalah Indra Bigwanto. Lelaki kelahiran September 1962 inilah yang mampu menaikan pamor radio sepi pendengar jadi favorit.
“Banyak komunitas yang bisa digarap, kami merangkul ujung tombaknya dan itu terbukti berhasil,” ujar Indra.
Salahsatu komunitas yang dituju adalah kelompok pendukung Persib Bandung. Komunitas yang tergabung dalam Viking ini ia manfaatkan sebagai pasar. Dua “gegedug” Viking diajak kerjasama sebagai penyiar, Ayi Beutik dan Yana Bool. Dan program inilah yang jadi unggulan di Bandung FM.
“Program republik bobotoh (program siaran Ayi dan Yana) memang sengaja dibuat, selain komunitasnya banyak, ini juga merupakan perwujudan konsep di masa lalu saya yang sempat membuat tabloid Bobotoh,” jelas Indra.
Selain komunitas pecinta Persib, Indra dan timnya juga memanfaatkan komunitas lainnya seperti otomotif, blogger, ataupun film. Nah, program yang dibuatnya ini rupanya dapat merangkul banyak pendengar untuk beralih ke frekuensi 95.2 Bandung FM.
Urusan radio memang sudah menjadi santapan Indra sejak dulu. Pertama kali ia terjun ke dunia kerja, Indra langsung menggeluti dunia radio di Radio Famor di tahun 1988. Tak lama dari itu, ia beralih ke media cetak dan bergabung ke koran Pikiran Rakyat . Lalu PR membuat radio, dan Indra pun kembali dipercaya menggawangi radio PR sebagai Station Manager.
Tahun 1990, Indra kembali pindah. Kali ini radio OZ jadi pelabuhan berikutnya. Di radio ini Indra yang dipercaya sebagai Direktur selama 10 tahun membuat banyak perubahan. Banyak program yang dibuat bersama timnya seperti komputerisasi, pengadaan OB Van, serta mampu meningkatkan pendapatan karyawannya. Bahkan, Indra juga sempat satu era dengan P Poject serta Sogi Indraduadja yang keduanya kini punya nama tenar.
Tahun 2000, Indra keluar dari OZ dan memutuskan membuat usaha sendiri. Ia berangkat ke Jakarta dan mendirikan perusahaan komunikasi bernama Metro Star hingga tahun 2004. Di tahun 2002, ia juga mendirikan perusahaan di Bandung yang bergerak di bidang konsultan radio yaitu PT. Radio Inovator Indonesia (RI-1).
Selain itu, Indra juga sempat beberapakali membuat media cetak seperti Buah Batu Bisnis, Bandung Plus, Pasar Mobil Bandung, Metro Pos, serta Tabloid Bobotoh. Persaingan yang cukup ketat membuatnya harus mencoba untuk kembali menggeluti dunia radio.
“Nah di radio ini, sekarang saya juga akan kembali menerbitkan tabloid,” katanya.
Banyak tantangan yang sudah ia dapatkan saat menjalani usahanya, Namun ia tetap bertahan dan mampu kembali bangkit untuk terjun di usaha baru. Menurutnya, kunci suksesnya harus berada pada mental yang kuat. Persaingan yang semakin ketat membuat tentu membutuhkan daya tahan yang kuat untuk menghadapinya.
Selain itu, Indra juga menyarankan agar terus berfokus pada usaha yang sedang dijalankan. Differensiasi juga jadi faktor yang penting untuk berlomba dengan perusahaan lain. Ia mengatakan, dengan perbedaan akan dapat menciptakan pasar sendiri yang bisa digarap.
Dengan adanya teknologi yang lebih maju seperti sekarang, Indra juga menyarankan agar memanfaatkan jaringan sosial di internet dengan lebih intensif. Menurutnya, hal itu bisa dijadikan sebagai sarana promosi efektif dan murah biaya.
“Saat ini banyak yang bisa dimanfaatkan untuk memajukan usaha, tinggal kitanya saja yang harus bisa mencari differensiasi, dan terus fokus pada usaha yang dikerjakan,” tutur mantan Ketua I PRSSNI (Persatuan radio Siaran Swasta Nasional Indonesia).
http://pengusaha.co.id/cerita/indra_bigwanto_fokus_berbeda_manfaatkan_jaringan_sosial
Adrilsyah Adnan
Nama : Adrilsyah Adnan
Jenis Usaha : Clothing
Merek Usaha : Warning, 74, Magma, Camo
Lokasi Usaha : Bandung, Jakarta, Surabaya,
Jogjakarta, Purwakarta
Jogjakarta, Purwakarta
Mulai Usaha : 1997
Usaha lainnya : Pemasok bahan clothing
Bekerja keras untuk mencapai sesuatu yang diinginkan memang jadi sebuah keharusan. Apalagi ketika memulai usaha baru. Tentu, tak bisa berleha-leha untuk mengerjakannya karena harus memenuhi target yang diinginkan. Hal itulah yang dilakukan Adrilsyah Adnan saat memulai karirnya menjadi pengusaha.
Adril adalah seorang perantau yang berasal dari Bukit Tinggi. Ia telah menyelesaikan kuliahnya di bandung pada tahun 1997. Untuk menyambung hidupnya, ia harus untuk menecari cara untuk mendapatkan uang. Ia memulainya dengan menjadi brooker sweater rajut di Bandung untuk di jual ke Jakarta. Dari Ibu Kota, ia datang ke kembali dengan membawa topi untuk di pasarkan di Bandung. Walaupun untung yang ia dapatkan sedikit, usaha ini tetap ia tekuni selama beberapa bulan
Bisnis yang berawal dari kebutuhan itu pun berkembang jadi usaha menguntungkan. Itu bermula dari Adril yang menemukan celah baru di dunia bisnis. Penjualan topi pun tak mengandalkan lagi produk asal Jakarta. Sedikit demi sedikit, ia membangun konveksi yang khusus membuat topi.Setelah cukup berkembang, ia memberanikan diri membuka usahanya dalam bentuk toko di kawasan Parahyangan Plaza. Toko topi dengan merek dagang Warning ini pun cukup laku. Darisana ia pun mulai mengembangkan sayapnya dengan membuka produk baru. Di tahun 2000 ia pun jadi pelopor bisnis pakaian distro di kawasan Parahyangan Plaza.
Adril pun mulai dengan membuat produk berupa kaos, tas, hingga apparel distro lainnya. Ia pun tak hanya membuka tokonya di Bandung. Untuk memperluas jaringan usahanya, Adril membuka clothingnya di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Jogjakarta serta Purwakarta.
Usahanya berjalan dengan lancar. Sekarang ia membuat clothing dengan merek baru yaitu 74 yang diambil dari tahun kelahirannya. Warning pun berpindah tempat, dan toko yang ada di Parahyangan dijadikan clothing 74. Ia kembali membuka merek baru yaitu Magma dan Camo. Sebetulnya, semua merek milik Adril itu bergerak di bidang yang sama. Cuma, ia pintar memanfaatkan segmentasi pasar yang terbagi jadi beberapa macam.
Saat ini, ia juga jadi pemasok bahan untuk beberapa distro di Bandung. Awalnya memang ia belanja hanya untuk keperluan clothingnya. Tapi, karena ada permintaan dari rekanan bisnisnya, Adril pun memulai usaha barunya untuk menjual bahan. Sekarang, adril yang awalnya mondar mandir Bandung Jakarta untuk mencari tambahan kebutuhan hidup sudah tinggal menikmati hasilnya. Malah, ia pun ikut membuka peluang kerja baru dengan puluhan karyawan serta vendornya
Aburizal Bakrie
Ir. H. Aburizal Bakrie (lahir di Jakarta, 15 November 1946; umur 63 tahun) adalah seorang pengusaha Indonesia yang merupakan Ketua Umum Partai Golkar sejak 9 Oktober 2009. Ia pernah menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Sebelumnya ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Perekonomian dalam kabinet yang sama, namun posisinya berubah dalam perombakan yang dilakukan presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 5 Desember 2005.
Dia adalah anak sulung dari keluarga Achmad Bakrie, pendiri Kelompok Usaha Bakrie, dan akrab dipanggil Ical. Selepas menyelesaikan kuliah di Fakultas Elektro Institut Teknologi Bandung pada 1973, Ical memilih fokus mengembangkan perusahaan keluarga, dan terakhir sebelum menjadi anggota kabinet, dia memimpin Kelompok Usaha Bakrie (1992-2004).
Selama berkecimpung di dunia usaha, Ical juga aktif dalam kepengurusan sejumlah organisasi pengusaha. Sebelum memutuskan meninggalkan karier di dunia usaha, dia menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) selama dua periode (1994-2004).
Pada 2004, Ical memutuskan untuk mengakhiri karier di dunia usaha, setelah mendapat kepercayaan sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Indonesia Bersatu periode 2004-2009. Dan sejak terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar 2009-2010, waktu dan energinya tercurah untuk mengurus partai.
Dia adalah anak sulung dari keluarga Achmad Bakrie, pendiri Kelompok Usaha Bakrie, dan akrab dipanggil Ical. Selepas menyelesaikan kuliah di Fakultas Elektro Institut Teknologi Bandung pada 1973, Ical memilih fokus mengembangkan perusahaan keluarga, dan terakhir sebelum menjadi anggota kabinet, dia memimpin Kelompok Usaha Bakrie (1992-2004).
Selama berkecimpung di dunia usaha, Ical juga aktif dalam kepengurusan sejumlah organisasi pengusaha. Sebelum memutuskan meninggalkan karier di dunia usaha, dia menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) selama dua periode (1994-2004).
Pada 2004, Ical memutuskan untuk mengakhiri karier di dunia usaha, setelah mendapat kepercayaan sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Indonesia Bersatu periode 2004-2009. Dan sejak terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar 2009-2010, waktu dan energinya tercurah untuk mengurus partai.
Daftar isi[sembunyikan] |
[sunting] Keluarga
Aburizal mempunyai tiga adik yaitu sebagai berikut- Roosmania Odi Bakrie, menikah dengan Bangun Sarwito Kusmulyono
- Indra Usmansyah Bakrie, menikah dengan Gaby Djorgie
- Nirwan Dermawan Bakrie, menikah dengan Indira (Ike)
- Anindya Novyan Bakrie, menikah dengan Firdani Saugi
- Anindhita Anestya Bakrie, menikah dengan Taufan Nugroho
- Anindra Ardiansyah Bakrie, menikah dengan Nia Ramadhani
[sunting] Pendidikan
- Jurusan Teknik Elektro ITB, Institut Teknologi Bandung, lulus tahun 1973
[sunting] Pekerjaan
- 1992 - sekarang Komisaris Utama/Chairman, Kelompok Usaha Bakrie
- 1989 – 1992 Direktur Utama PT. Bakrie Nusantara Corporation
- 1988 – 1992 Direktur Utama PT Bakrie & Brothers
- 1982 – 1988 Wakil Direktur Utama PT. Bakrie & Brothers
- 1974 –1982 Direktur PT. Bakrie & Brothers
- 1972 – 1974 Asisten Dewan Direksi PT. Bakrie & Brothers
[sunting] Organisasi
- 2009 - 2014 Ketua Umum DPP Partai GOLKAR
- 2004 - 2009 Anggota Dewan Penasehat DPP Partai GOLKAR
- 2000 – 2005 Anggota Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia)
- 1999 – 2004 Ketua Umum KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) periode II
- 1996 – 1998 Presiden, Asean Chamber of Commerce & Industry
- 1996 – 1997 International Councellor, Asia Society
- 1994 - 1999 Ketua Umum KADIN periode I
- 1993 – 1998 Anggota, Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) – periode II
- 1993 – 1995 Anggota Dewan Penasehat, International Finance Corporation
- 1993 – 1995 Presiden ASEAN Business Forum (d/h Institute of South East Asian Business) – periode II
- 1991 - 1993 Presiden ASEAN Business Forum (d/h Institute of South East Asian Business) – periode I
- 1989 – 1994 Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia
- 1988 – 1993 Wakil Ketua Umum, KADIN Bidang Industri dan Industri Kecil
- 1988 - 1993 Anggota, Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR) – periode I
- 1985 – 1993 Ketua Bidang Dana PBSI (Persatuan Bulu Tangkis Indonesia)
- 1984-sekarang Anggota, Partai Golongan Karya
- 1984 – 1988 Wakil Ketua, Asosiasi Kerjasama Bisnis Indonesia – Australia
- 1977 – 1979 Ketua Umum, HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia)
- 1976 – 1989 Ketua Umum, Gabungan Pabrik Pipa Baja Seluruh Indonesia
- 1975: Ketua Departemen Perdagangan HIPMI
- 1973 – 1975 Wakil Ketua Departemen Perdagangan, HIPMI
[sunting] Penghargaan
- 1997 Penghargaan “ASEAN Business Person of the Year” dari the ASEAN BusinessForum
- 1995 Pengharagaan “Businessman of the Year” dari Harian Republika
- 1986 Penghargaan “The Outstanding Young People of the World” dari the Junior Chamber of Commerce
Langganan:
Postingan (Atom)