Jumat, 08 Oktober 2010

Tips Memilih Lokasi yang Strategis

Biaya hidup dan harga kebutuhan pokok yang terus meningkat dari hari ke hari, memaksa banyak karyawan untuk berfikir keras bagaimana menambah income bulanan. Jika hanya berharap pada gaji, akan sangat tidak sebanding dengan banyaknya kebutuhan, baik itu untuk makan sehari-hari, jajan anak-anak, kebutuhan sekolah, pengobatan, atau mungkin ada anak saudara yang ikut menumpang dirumah yang perlu juga dibiayai sekolahnya.

Jika baru lulus smu atau universitas, di hadang oleh susahnya mencari lowongan pekerjaan, sudah melamar sana-sini tapi belum ‘keterima‘, padahal nilai IP sangat baik dan memuaskan, tapi karena tingkat persaingan tenaga kerja yang ketat, akhirnya nasib baik belum menghampiri. Bukannya pemerintah tidak ikut memikirkan hal ini, pemerintah juga telah berupaya mengurangi pengangguran di negeri ini dengan cara membuka kesempatan seluas-luasnya untuk di terima sebagai PNS, tapi karena jumlah lulusan smu dan universitas yang mencari lapangan pekerjaan sangat banyak, lowongan pekerjaan di pemerintahan dan dunia swasta belum mampu menampungnya.

Di saat-saat seperti ini, mungkin bisa di coba untuk membuka usaha sendiri alias berwirausaha menjadi seorang entrepreneur kecil-kecilan, syukur-syukur bisa menjadi entrepreneur sukses sekelas Pak Roni Yuzirman atau pengusaha lainnya, Namun hati-hati, tidak sedikit mereka yang ingin segera meraup untung malah menuai rugi. Biasanya hal ini terjadi karena mereka hanya melihat orang lain sukses disuatu bisnis, misalnya di bisnis A, akhirnya mereka ikut-ikutan meniru dan masuk ke bisnis A tanpa memperhitungkan situasi dan kemampuan yang ada.

Saat ini, banyak pengusaha muda yang memulai bisnis dari kampus alias saat masih masa kuliah. Trik pertamanya adalah memanfaatkan kampus sebagai pangsa pasar utamanya untuk berbisnis. Misalnya membuka jasa pengetikan atau sewa komputer, jasa les bahasa inggris atau les komputer, membuka warung makan murah meriah atau membuka toko kecil yang menjual alat-alat kantor dan kuliah plus jasa fotocopy. Pola bisnis ini biasanya difokuskan pada kegiatan dalam kampus dan mahasiswa. Beberapa usaha yang berawal dari kampus antara lain: Genesha Operation, Sugema, Pt Tirta Maya Cybermedia.

Ada juga yang memulai usahanya karena tekanan ekonomi untuk melanjutkan kuliah. Karena biaya yang minim, akhirnya “terpaksa” cari usaha sampingan supaya bisa tetap kulaih. Dan setelah tamat dari universitas, pekerjaan yang ditekuni juga tak jauh dari bidang bisnis yang dirintis sejak masa kuliah. Contohnya Bapak Abdul Latief, Bos Pasaraya yang memulai bisnisnya dengan berjualan telur di pasar untuk membiayai kualiahnya di Universitas Krisna Dwipayana.

Selain memulai bisnis saat masa kuliah, bisa juga memulai membuka usaha setelah lulus dari bangku kuliah atau dari smu/ stm. Biasanya hal ini di lakukan sambil menunggu panggilan karja. Umumnya hal ini dapat dilakukan oleh mereka yang sudah merintis bisnisnya dari masa dibangku sekolah atau belajar membuka usaha dari orangtuanya yang juga berstatus sebagai wirausaha atau pebisnis. Namun tidak menutup kemungkinan juga dapat dilakoni oleh mereka yang orangtuanya bukan pebisnis, tapi memiliki tekad memulai usaha karena lamaran kerja tidak ada satu-pun yang “nyantol“. Ada juga yang setelah lulus dari universitas, membuat usaha kecil “setengah coba-coba” di bidang yang memiliki pengalaman di masa kuliah, namun kemudian berkembang menjadi usaha yang besar, seperti kisah Budyarto dan 2 rekannya yang mendirikan Debindo yang pada mulanya menangani sub kontrak produk-produk promosi untuk agensi besar.

Bagaimana dengan “Bekerja lebih dahulu lalu perlahan menjadi wirausaha?” Langkah tersebut juga banyak ditempuh para wirausahawan. Selama menjadi karwayan, bisa mendapatkan pengalaman yang berharga, jaringan dan informasi yang lebih banyak tentang seluk beluk bisnis yang akan ditekuni. 5 s/d 15 tahun setelah lulus dari smu atau universitas merupakan masa yang paling pas. Setelah masa tersebut, seseorang akan sangat terbantu untuk sukses karena memiliki pengalaman, relasi, jaringan dan informasi dalam memulai bisnis barunya. Namun, kadangkala, kalau seseorang sudah masuk ke “zona nyaman” di dalam karirnya, biasanya dia akan “betah” lama-lama berkarir dan enggan terjun menjadi wirausahawan. Baru tersadar jika sudah mengalami masa sulit, misalnya harga-harga melambung tinggi, dan jumlah income dari gaji sudah sebanding lagi dengan tingkat inflasi yang terjadi.

Adhi S Lukman merintis Inaco setelah bekerja di pabrik makanan sekitar 4 tahun. M Najik membangun Kelola Mina Laut setelah 8 tahun bekerja di beberapa perusahaan sea-food. Pada saat bekerja dan menjalani karir menjadi karyawan, mereka belajar dan menyerap ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Sehingga pada gilirannya mereka merintis usaha sendiri, tidak ada kecanggungan atau salah langkah dalam bisnis baru mereka.

Bagi yang ingin memulai bisnis pertamanya, supaya tidak terjebak atau mengalami kerugian dalam memulai bisnis atau usaha, sebaiknya rencanakan dengan baik dan matang bisnis yang akan dijalankan. Namun demikian, jangan sampai terjebak pada kagiatan “kalkulasi” yang terlalu lama sehingga akhirnya tidak mengambil action. Memang penting sekali melakukan survey kelayakan usaha, menghitung untung rugi, melihat kondisi pasar, tapi jangan sampai hal-hal tersebut menghilangkan semangat kita memulai usaha dan akhirnya menunda-nunda rencana kita membuka sebuah usaha.

Dalam banyak hal, sukses atau tidaknya suatu usaha tergantung pada kreativitas dan kejelian pelaku bisnis itu sendiri. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai suatu usaha antara lain:

1. Lihat situasi pasar (lokasi bisnis)

Lokasi merupakan salah satu faktor terpenting dalam hal membuka usaha. Lakukan analisis kebutuhan di suatu tempat atau area, dengan melihat situasi pasar bisa ditentukan jenis usaha apa yang ingin di buka. Ada usaha yang cocok dibuka disuatu tempat / area, tetapi tidak cocok di tempat lainnya. Misalnya, mahasiswa biasanya membutuhkan tempat fotocopy atau rental komputer, maka tempatnya pun harus mendekati universitas atau kos-kosan mahasiswa. Sedangkan kalau mau buka usaha toko kelontong lebih cocok disekitar perumahan atau pemukiman penduduk. Lihat kondisi daerah yang anda bidik, ramai atau tidak, potensinya, dan rencana pengembangan daerah itu kedepannya, karena hal itu berhubungan dengan maju mundurnya bisnis anda di masa depan.

Jika harga sewa suatu lokasi lumayan mahal dan tak terjangkau, bisa mencoba memulai usaha dari rumah sendiri terlabih dahulu, misalnya menyulap garasi menjadi tempat usaha. Coba jika anda berjalan-jalan, lihatlah saat ini di depan rumah-rumah orang sudah banyak yang berjualan, ada yang berjualan voucher handphone, casing, hp second, ada yang berjulan nasi uduk, ada yang berjualan barang kelontong (aneka keperluan rumah tangga dan bahan pokok), pisang goreng, sampai ayam goreng crispy. Kelebihan membuka usaha dari rumah adalah sewa tempat menjadi “Gratis“, dan untuk penerangan malam hari tinggal diambil dari listrik rumah.

2. Modal

Ini yang paling yang harus disiapkan. Modal awal bisa berasal dari gaji yang disisihkan atau sumber lain. Bagaimana jika tidak punya modal sama sekali? jika tidak punya dana cash sama sekali, coba jadi “broker” terlebih dahulu, misalnya menjadi freelance marketer produk orang lain, dari komisi yang didapatkan dikumpulkan sedikit demi sedikit sehingga tercapai modal yang cukup untuk memulai usaha. Jadi diperlukan sikap disiplin menyisihkan penghasilan untuk modal usaha. Bisa juga (kalau terpaksa) meminjam ke sanak saudara, karena biasanya saudara sudah saling mengenal sehingga sudah ada rasa kepercayaan terhadap kita, sehingga mereka rela meminjamkan kita modal dengan bunga yang kecil. Usahakan minimal dana yang dimiliki sendiri 50% dari total modal yang dibutuhkan dan ingat perjanjian kapan pengembaliannya atau mencicil utang tersebut. Jangan sampai hubugan persaudaraan retak karena masalah hutang-piutang yang tidak beres.

Alternatif sumber modal yang lain adalah mengajak teman atau saudara untuk menanamkan modalnya pada usaha yang hendak dirintis. Atau bisa juga bikin usaha patungan, dengan modal dalam persentase tertentu. Misalnya rencana membuka toko baju dengan modal awal 10 juta (udah termasuk sewa tempat, peralatan dan barang modal), kalau buka sendiri memang berat, tapi kalau rencana ini bisa dishare ke saudara atau teman lain, misalnya ngajak 3 orang lagi untuk patungan, jadi total 4 orang yang bersama-sama membuka usaha, otomatis masing-masing cuma setor 2,5 juta, dan tentu lebih ringan.

3. Strategi bisnis & Promosi

Jika modal sudah disiapkan, dan lokasi sudah didapatkan, mulailah pelajari strategi bisnisnya. Dari bagaimana cara memperoleh penjualan yang bagus, cara mengelola usahanya, arus cash dan lain sebagainya, pendek kata bagaimana caranya supaya bisnis tersebut bisa berkembang dan maju. Katahui produk anda kapan permintaan konsumen banyak, dan kapan sepi, hal ini perlu disiapkan, karena berhubungan dengan pengelolaan keuangannya.

Langkah awal adalah memasang spanduk di depan toko, mencetak dan menyebarkan brosur, memasang banner di depan toko. Dalam melayani pelanggan harus ramah, dan penuhi kebutuhan pelanggan lebih dari apa yang dia harapkan, supaya lain kali dia membeli di toko kita, buka di tempat pesaing.

Selain itu, faktor promosi harus benar-benar diperhatikan, karena kadang-kadang kegiatan promosi dihilangkan saat roda bisnis sedang lesu dengan alasan tidak ada dana. Karena, promosi usaha dalam bentuk apapun jangan sampai terhenti dalam jangka waktu yang lama, karena bisa-bisa customer lupa akan usaha kita. Jika kita berpromosi secara rutin, orang akan selalu ingat kepada usaha , produk dan jasa kita, bahkan tertanam di alam bawah sadarnya informasi tentang bisnis kita. Promosi yang terus-menerus akan berdampak pada terjadinya penjualan.

Bila usaha sedang seret, tetaplah berpromosi, cuma usahakan mencari cara-cara promosi yang lebih efektif tapi lebih efisien dan mengena sasaran pelanggan kita. Kadang memang harus berkorban terlebih dahulu jika pemasukan minim tapi biaya promosi selalu keluar. Kalau kondisi ekonomi lagi buruk dan kita berhenti berpromosi, bisa-bisa kita dianggap sudah gulung tikar oleh pelanggan kita.

4. Keberanian mengambil resiko

“Menjadi entrepreneur itu resikonya besar!”. Ya … memang berisiko, tapi perlu diingat bahwa peluang incomenya juga lebih basar daripada sekedar menjadi karyawan biasa yang mengharapkan gaji bulanan yang jumlahnya di batasi. Di dalam dunia wirausaha, resiko kerugian sangat terbentang lebar, tetapi semua bisa diatasi dengan kehati-hatian dalam mengambil keputusan, kejelian, inovasi produk dan kreativitas dalam pemasaran.

5. Menjalin jaringan bisnis

Penting sekali untuk menjalin relasi atau jaringan bisnis seluas-luasnya. Ketahui setiap rekan bisnis, produk dan jasa apa yang mereka miliki, siapa tahu bisa bersinergi dengan anda. Rekan sesama pebisnis juga dapat saling memberi saran jika mengalami kesulitan dalam berbisnis.

http://partisimon.com/blog/hal-hal-yang-harus-diperhatikan-sebelum-memulai-bisnis-atau-berwirausaha-bagi-pemula.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar